Kami adalah khilafah: Investigasi mendalam terhadap kebangkitan retorika ekstremis dan dampak mendalamnya terhadap stabilitas geopolitik global

Kami adalah khilafah: Investigasi mendalam terhadap kebangkitan retorika ekstremis dan dampak mendalamnya terhadap stabilitas geopolitik global

Jillian Turin@jillianturin
3
0

Sebuah investigasi editorial tentang penyalahgunaan konsep Khilafah oleh kelompok ekstremis dan dampak destabilisasinya terhadap dunia Muslim dan keamanan global pada tahun 2026.

Referensi Artikel

Sebuah investigasi editorial tentang penyalahgunaan konsep Khilafah oleh kelompok ekstremis dan dampak destabilisasinya terhadap dunia Muslim dan keamanan global pada tahun 2026.

  • Sebuah investigasi editorial tentang penyalahgunaan konsep Khilafah oleh kelompok ekstremis dan dampak destabilisasinya terhadap dunia Muslim dan keamanan global pada tahun 2026.
Kategori
Pernyataan
Penulis
Jillian Turin (@jillianturin)
Diterbitkan
26 Februari 2026 pukul 03.33
Diperbarui
2 Mei 2026 pukul 14.09
Akses
Artikel publik

Gema dari Cita-cita yang Dicuri

Pada bulan-bulan awal tahun 2026, frasa "Kami adalah khilafah" telah melampaui sekadar slogan menjadi senjata multidimensi yang ampuh dalam perang ideologi global. Bagi komunitas Muslim global (Ummah), konsep *Khilafah* secara historis mewakili puncak keadilan (*Adl*), persatuan, dan kepemimpinan spiritual. Namun, saat kita berada di Februari 2026, warisan suci ini secara sistematis dibajak oleh faksi-faksi ekstremis untuk membenarkan gelombang baru kekerasan transnasional yang mengancam stabilitas negara-negara mayoritas Muslim dan tatanan global yang lebih luas. [New Lines Institute](https://newlinesinstitute.org/isis/the-dangerous-fantasy-of-the-caliphate/)

Investigasi ini mengeksplorasi bagaimana kebangkitan retorika ini—yang dipicu oleh kekosongan kepemimpinan di Sahel, kebangkitan digital Provinsi Khorasan Negara Islam (ISKP), dan keluhan terus-menerus dari pemuda yang terpinggirkan—sedang membentuk kembali lanskap geopolitik. Dari perspektif Ummah, tragedinya bersifat ganda: penghancuran fisik tanah Muslim dan perusakan spiritual dari cita-cita Islam yang seharusnya menjadi "perisai" bagi mereka yang tertindas, bukan pedang melawan orang-orang yang tidak bersalah. [True North](https://tnc.news/2025/01/03/islamic-extremist-group-hosting-caliphate-conference-in-mississauga/)

Sahel: Episentrum Baru Narasi "Khilafah"

Hingga awal 2026, Sahel di Afrika secara resmi telah menggantikan Syam (Levant) sebagai episentrum global aktivitas ekstremis. Data terbaru dari Indeks Terorisme Global 2025 menunjukkan bahwa Sahel menyumbang 51% dari semua kematian terkait terorisme di seluruh dunia pada tahun 2024, sebuah tren yang semakin intensif hingga tahun berjalan. [Security Council Report](https://www.securitycouncilreport.org/monthly-forecast/2025-04/west-africa-and-the-sahel.php)

Kelompok-kelompok seperti Jama'at Nusrat al-Islam wal-Muslimin (JNIM) dan Negara Islam di Sahara Besar (ISGS) telah mengeksploitasi runtuhnya kerangka keamanan regional, seperti G5 Sahel, dan penarikan pasukan penjaga perdamaian internasional. Di Mali, Burkina Faso, dan Niger—yang kini terorganisir di bawah Aliansi Negara-Negara Sahel (AES)—retorika "memulihkan khilafah" digunakan untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh tata kelola yang lemah dan penurunan ekonomi. [Council on Foreign Relations](https://www.cfr.org/global-conflict-tracker/conflict/violent-extremism-sahel)

Bagi penduduk setempat, "khilafah" yang dijanjikan oleh kelompok-kelompok ini tidak terwujud sebagai kembalinya kejayaan Islam, melainkan sebagai "perang ekonomi." Pada akhir 2025, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres memperingatkan tentang "efek domino yang membawa bencana" saat kelompok-kelompok ini menerapkan blokade bahan bakar dan melumpuhkan perdagangan di seluruh Afrika Barat, menyebabkan jutaan orang tanpa layanan esensial. [UN News](https://press.un.org/en/2025/sc16226.doc.htm) Penyimpangan tata kelola Islam ini, yang secara tradisional menekankan kesejahteraan warga negara, justru telah mengubah wilayah tersebut menjadi "sarang" bagi ekosistem teror global yang diperbarui. [Eurasia Review](https://www.eurasiareview.com/19122025-iskp-afghanistan-and-the-global-terror-comeback-oped/)

ISKP dan Khilafah Digital: Garis Depan AI

Sementara Sahel mewakili garis depan fisik, Provinsi Khorasan Negara Islam (ISKP) telah mempelopori "Khilafah Digital." Sepanjang tahun 2025 dan hingga awal 2026, ISKP telah mengalihkan strateginya dari kontrol teritorial di Afghanistan ke kampanye propaganda multibahasa yang canggih. [Vision of Humanity](https://www.visionofhumanity.org/the-terror-group-expanding-beyond-borders-and-into-cyberspace/)

Beroperasi melalui Yayasan Al-Azaim untuk Produksi Media, kelompok ini sekarang memproduksi konten dalam lebih dari sepuluh bahasa, termasuk Pashto, Tajik, Rusia, dan Inggris. Yang paling mengkhawatirkan, laporan intelijen dari pertengahan 2025 menunjukkan bahwa ISKP telah mulai memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) generatif untuk menyesuaikan propaganda dengan keluhan spesifik komunitas diaspora di Eropa dan Amerika Utara. [The Soufan Center](https://thesoufancenter.org/intel-brief-2025-july-11/)

Retorika digital ini—yang sering berpusat pada tema "Khilafah Sudah Dekat"—dirancang untuk meradikalisasi aktor tunggal yang jauh dari basis kelompok tersebut di Asia Tengah. Serangan Malam Tahun Baru 2025 di New Orleans dan serangan Pantai Bondi Desember 2024 di Australia keduanya dikaitkan dengan hasutan yang terdesentralisasi dan didorong oleh AI ini. [Counter Extremism Project](https://www.counterextremism.com/blog/extremist-content-online-isis-celebrates-2025-attacks-calls-lone-actor-attacks-2026) Bagi Ummah, ini mewakili *Fitna* (perselisihan internal) yang mendalam, karena kaum muda terpikat menjauh dari jalan yang seimbang (*Wasatiyyah*) oleh distorsi iman mereka dengan kualitas produksi yang tinggi.

Destabilisasi Geopolitik dan Kekosongan di Syam

Jatuhnya rezim Bashar al-Assad di Suriah pada Desember 2024 awalnya memicu harapan akan era keadilan yang baru. Namun, kekosongan tata kelola yang dihasilkan pada awal 2025 memicu kebangkitan kekerasan sektarian. Meskipun kehadiran teritorial Negara Islam di Irak dan Suriah tetap menjadi bayang-bayang dari puncaknya pada tahun 2014—dengan perkiraan yang menunjukkan hanya 1.500 hingga 3.000 pejuang aktif—retorika "khilafah" terus membara di kamp-kamp penahanan seperti al-Hol, yang menampung lebih dari 38.000 individu. [ICCT](https://www.icct.nl/publication/islamic-state-2025-evolving-threat-facing-waning-global-response)

Persistensi retorika ini memiliki konsekuensi geopolitik yang mendalam. Hal ini memaksa negara-negara mayoritas Muslim ke dalam posisi defensif, yang sering kali mengarah pada peningkatan sekuritisasi yang secara tidak sengaja dapat melanggar kebebasan sipil dan memicu kebencian lebih lanjut. Di Mesir, Presiden Abdel Fattah Al-Sisi baru-baru ini menyerukan "diskursus keagamaan yang bersatu dan tercerahkan" untuk mencegah eksploitasi iman oleh mereka yang hanya mencari "kehancuran dan pertumpahan darah." [Daily News Egypt](https://www.dailynewsegypt.com/2026/01/19/al-sisi-calls-for-unified-religious-discourse-to-counter-extremism-modernize-islamic-outreach/)

Merebut Kembali Narasi: Respons Para Ulama

Menanggapi kebangkitan retorika ekstremis, gerakan tandingan dari cendekiawan Islam mulai mendapatkan momentum pada tahun 2026. Institusi seperti Al-Azhar di Mesir dan Liga Dunia Muslim telah mengintensifkan upaya mereka untuk mendekonstruksi interpretasi ekstremis tentang Khilafah. [Tandf Online](https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/13530194.2025.2242626)

Para ulama menekankan bahwa Khilafah historis adalah institusi politik yang tunduk pada kondisi zamannya, bukan mandat teologis untuk perang abadi. Deklarasi *Paigham-e-Pakistan*, yang ditegaskan kembali pada akhir 2025, mengklarifikasi bahwa tindakan terorisme yang dilakukan atas nama Jihad adalah kontradiksi langsung dari prinsip-prinsip Islam. [Eurasia Review](https://www.eurasiareview.com/09102025-the-role-of-islamic-scholars-in-countering-extremist-narratives-a-path-to-restoring-jihads-true-meaning-oped/) Inisiatif-inisiatif ini bertujuan untuk memulihkan makna Jihad yang sebenarnya sebagai perjuangan mulia demi kebenaran dan perbaikan diri, bukan alat untuk penaklukan politik.

Selain itu, konferensi "Caliphate 2025" dan "Khilafah Is Imminent" yang diorganisir oleh kelompok-kelompok seperti Hizbut Tahrir di Kanada telah menghadapi penolakan signifikan dari dalam komunitas Muslim itu sendiri. Dewan Imam Global dan badan perwakilan lainnya telah mengecam acara-acara tersebut, dengan menyatakan bahwa hal itu menumbuhkan perpecahan dan mengisolasi umat Islam dari masyarakat tempat mereka tinggal. [The Jerusalem Post](https://www.jpost.com/international/article-837812)

Kesimpulan: Jalan ke Depan bagi Ummah

Kebangkitan retorika "Kami adalah khilafah" bukanlah tanda kekuatan Islam, melainkan gejala dari tantangan geopolitik dan spiritual yang dihadapi dunia modern. Bagi Ummah, jalan ke depan terletak pada merebut kembali konsep Khilafah dari mereka yang menggunakannya untuk menghancurkan. Hal ini memerlukan pendekatan ganda: mengatasi akar penyebab ekstremisme—kemiskinan, tata kelola yang lemah, dan ketidakadilan—sambil secara bersamaan memperkuat pertahanan intelektual dan spiritual kaum muda. [UN News](https://press.un.org/en/2025/sc16226.doc.htm)

Saat kita menavigasi kompleksitas tahun 2026, "khilafah" hati yang sejati—yang dibangun di atas kasih sayang, keadilan, dan pelestarian kehidupan—harus menang atas "khilafah" pedang. Hanya dengan menghadirkan citra Islam yang otentik, progresif, dan bersatu, dunia Muslim dapat memastikan stabilitasnya sendiri dan berkontribusi pada tatanan global yang lebih damai. [Habilian Association](https://www.habilian.ir/en/202502124726/islamic-scholars-targets-of-counterfeit-versions-of-islam.html)

Komentar

comments.comments (0)

Please login first

Sign in