
Pusat Pembebasan Umat untuk Turkistan Timur Mengeluarkan Pernyataan Komprehensif Mengenai Perkembangan Situasi Kemanusiaan dan Politik di Wilayah Tersebut serta Menyerukan Tindakan Internasional Segera
Pusat Pembebasan Umat untuk Turkistan Timur mengeluarkan pernyataan strategis yang memperingatkan tentang transformasi penindasan Tiongkok menjadi 'pelembagaan digital' genosida, mengkritik kebisuan internasional dan keterlibatan beberapa kekuatan regional.
Referensi Artikel
Pusat Pembebasan Umat untuk Turkistan Timur mengeluarkan pernyataan strategis yang memperingatkan tentang transformasi penindasan Tiongkok menjadi 'pelembagaan digital' genosida, mengkritik kebisuan internasional dan keterlibatan beberapa kekuatan regional.
- Pusat Pembebasan Umat untuk Turkistan Timur mengeluarkan pernyataan strategis yang memperingatkan tentang transformasi penindasan Tiongkok menjadi 'pelembagaan digital' genosida, mengkritik kebisuan internasional dan keterlibatan beberapa kekuatan regional.
- Kategori
- Warisan Perlawanan
- Penulis
- Yeah? (@yeahyeahxxxxx)
- Diterbitkan
- 2 Maret 2026 pukul 22.11
- Diperbarui
- 1 Mei 2026 pukul 17.25
- Akses
- Artikel publik
Pendahuluan: Jeritan dari Jantung Umat yang Terluka
Di tengah meningkatnya frekuensi pelanggaran sistematis yang dilakukan oleh otoritas pendudukan Tiongkok terhadap Muslim Uyghur dan bangsa-bangsa Turk lainnya di Turkistan Timur, **Pusat Pembebasan Umat untuk Turkistan Timur** mengeluarkan pernyataan komprehensif dan bersejarah pada tanggal 28 Februari 2026. Pernyataan ini muncul pada momen krusial dalam sejarah perjuangan ini, di mana penindasan bukan lagi sekadar kampanye keamanan sesaat, melainkan telah berubah menjadi sistem terpadu yang bertujuan untuk mencabut identitas Islam hingga ke akarnya. Pusat tersebut menekankan dalam pernyataannya bahwa apa yang terjadi hari ini adalah "perang terbuka terhadap Islam" [1.13](https://uyghurstudy.org/ar/%d8%aa%d8%b1%d9%83%d8%b3%d8%aa%d8%a7%d9%86-%d8%a7%d9%84%d8%b4%d8%b1%d9%82%d9%8a%d8%a9-%d9%88%d8%a7%d9%84%d8%a3%d9%88%d9%8a%d8%ba%d9%88%d8%b1/), menyerukan kepada umat Islam dan komunitas internasional untuk melampaui bahasa kecaman di atas kertas dan mengambil tindakan nyata guna menghentikan genosida yang telah memasuki tahap "pelembagaan hukum dan pengawasan teknologi" [1.12](https://arabi21.com/story/1572979/%d8%a8%d8%a7%d8%ad%d8%ab-%d8%a3%d9%88%d9%8a%d8%ba%d9%88%d8%b1%d9%8a-%d9%84%d9%80%d8%b9%d8%b1%d8%a8%d9%8a21-%d9%85%d8%b3%d9%84%d9%85%d9%88-%d8%a7%d9%84%d8%a3%d9%88%d9%8a%d8%ba%d9%88%d8%b1-%d9%8a%d8%aa%d8%b1%d8%b1%d8%b6%d9%88%d9%82-%d9%84%d9%82%d9%85%d8%b9-%d9%86%d8%a7%d8%b9%d9%85-%d9%84%d9%83%d9%86%d9%87-%d8%a3%d8%ae%d8%b7%d8%b1-%d9%85%d9%86-%d9%85%d8%b1%d8%ad%d9%84%d8%a9-2017).
Realitas Kemanusiaan 2026: Dari Kamp ke Penjara Digital Terbuka
Pernyataan tersebut, berdasarkan "Indeks Pelanggaran Hak Asasi Manusia di Turkistan Timur Tahun 2025" yang diluncurkan di Istanbul pada 16 Februari 2026, mengungkapkan pergeseran berbahaya dalam strategi penindasan Tiongkok [1.4](https://uyghurtimes.com/east-turkistan-human-rights-violations-index-2025-released-in-istanbul/). Sementara Beijing mencoba meyakinkan dunia bahwa kamp-kamp "rehabilitasi" telah ditutup, laporan lapangan mengonfirmasi bahwa pusat-pusat ini tidak ditutup melainkan diubah menjadi penjara resmi dan fasilitas kerja paksa [1.12](https://arabi21.com/story/1572979/%d8%a8%d8%a7%d8%ad%d8%ab-%d8%a3%d9%88%d9%8a%d8%ba%d9%88%d8%b1%d9%8a-%d9%84%d9%80%d8%b9%d8%b1%d8%a8%d9%8a21-%d9%85%d8%b3%d9%84%d9%85%d9%88-%d8%a7%d9%84%d8%a3%d9%88%d9%8a%d8%ba%d9%88%d8%b1-%d9%8a%d8%aa%d8%b1%d8%b1%d8%b6%d9%88%d9%82-%d9%84%d9%82%d9%85%d8%b9-%d9%86%d8%a7%d8%b9%d9%85-%d9%84%d9%83%d9%86%d9%87-%d8%a3%d8%ae%d8%b7%d8%b1-%d9%85%d9%86-%d9%85%d8%b1%d8%ad%d9%84%d8%a9-2017).
Pusat tersebut menjelaskan bahwa tahun 2025 menyaksikan peningkatan program "transfer tenaga kerja" paksa, di mana Tiongkok menargetkan jutaan Muslim dengan dalih "pengentasan kemiskinan". Pada kenyataannya, ini adalah sistem perbudakan modern yang bertujuan untuk memecah belah keluarga Uyghur dan mendistribusikan anggotanya ke pabrik-pabrik jauh di pedalaman Tiongkok guna memastikan kontrol atas mereka [1.6](https://ohchr.org/en/press-releases/2026/01/un-experts-alarmed-reports-forced-labour-uyghur-tibetan-and-other-minorities). Pernyataan itu juga menyoroti munculnya apa yang disebut "Penjara Digital Terbuka", di mana teknologi kecerdasan buatan dan pengawasan biometrik digunakan untuk melacak setiap gerak-gerik Muslim, menciptakan keadaan teror permanen yang mencegah praktik ritual keagamaan apa pun, bahkan di dalam rumah [1.12](https://arabi21.com/story/1572979/%d8%a8%d8%a7%d8%ad%d8%ab-%d8%a3%d9%88%d9%8a%d8%ba%d9%88%d8%b1%d9%8a-%d9%84%d9%80%d8%b9%d8%b1%d8%a8%d9%8a21-%d9%85%d8%b3%d9%84%d9%85%d9%88-%d8%a7%d9%84%d8%a3%d9%88%d9%8a%d8%ba%d9%88%d8%b1-%d9%8a%d8%aa%d8%b1%d8%b1%d8%b6%d9%88%d9%82-%d9%84%d9%82%d9%85%d8%b9-%d9%86%d8%a7%d8%b9%d9%85-%d9%84%d9%83%d9%86%d9%87-%d8%a3%d8%ae%d8%b7%d8%b1-%d9%85%d9%86-%d9%85%d8%b1%d8%ad%d9%84%d8%a9-2017).
Perkembangan Politik: Kekecewaan terhadap Organisasi Islam dan Kompromi Kepentingan
Pernyataan tersebut memberikan ruang besar untuk mengkritik posisi politik internasional, terutama posisi Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Pusat tersebut mengecam keras pertemuan antara Sekretaris Jenderal OKI dengan pejabat Tiongkok di Beijing pada 26 Januari 2026 [1.10](https://turkistanpress.com/ar/news/oic-china-meeting-condemned-as-betrayal-of-uyghur-muslims/), menganggapnya sebagai "pengkhianatan terhadap amanah dan pemutihan atas kejahatan genosida" [1.7](https://east-turkistan.net/the-tribune-east-turkistan-govt-in-exile-condemns-oic-visit-to-china-accuses-bloc-of-legitimising-genocide/). Pernyataan itu menyebutkan bahwa sikap OKI yang terus mengabaikan penghancuran lebih dari 16.000 masjid serta pelarangan puasa dan shalat merupakan tikaman dari belakang bagi umat Islam [1.7](https://east-turkistan.net/the-tribune-east-turkistan-govt-in-exile-condemns-oic-visit-to-china-accuses-bloc-of-legitimising-genocide/).
Di tingkat geopolitik, pusat tersebut memperingatkan eksploitasi Tiongkok terhadap krisis global, seperti perang di Ukraina dan agresi di Gaza, untuk mengalihkan perhatian dari isu Turkistan Timur [1.12](https://arabi21.com/story/1572979/%d8%a8%d8%a7%d8%ad%d8%ab-%d8%a3%d9%88%d9%8a%d8%ba%d9%88%d8%b1%d9%8a-%d9%84%d9%80%d8%b9%d8%b1%d8%a8%d9%8a21-%d9%85%d8%b3%d9%84%d9%85%d9%88-%d8%a7%d9%84%d8%a3%d9%88%d9%8a%d8%ba%d9%88%d8%b1-%d9%8a%d8%aa%d8%b1%d8%b1%d8%b6%d9%88%d9%82-%d9%84%d9%82%d9%85%d8%b9-%d9%86%d8%a7%d8%b9%d9%85-%d9%84%d9%83%d9%86%d9%87-%d8%a3%d8%ae%d8%b7%d8%b1-%d9%85%d9%86-%d9%85%d8%b1%d8%ad%d9%84%d8%a9-2017). Pernyataan itu menegaskan bahwa Beijing sedang berupaya mengintegrasikan kebijakan penindasannya ke dalam "doktrin keamanan nasional", yang berarti bahwa perubahan kepemimpinan Tiongkok di masa depan mungkin tidak akan mengakhiri penderitaan kecuali ada tekanan internasional nyata yang memberlakukan sanksi ekonomi dan politik yang tegas [1.12](https://arabi21.com/story/1572979/%d8%a8%d8%a7%d8%ad%d8%ab-%d8%a3%d9%88%d9%8a%d8%ba%d9%88%d8%b1%d9%8a-%d9%84%d9%80%d8%b9%d8%b1%d8%a8%d9%8a21-%d9%85%d8%b3%d9%84%d9%85%d9%88-%d8%a7%d9%84%d8%a3%d9%88%d9%8a%d8%ba%d9%88%d8%b1-%d9%8a%d8%aa%d8%b1%d8%b1%d8%b6%d9%88%d9%82-%d9%84%d9%82%d9%85%d8%b9-%d9%86%d8%a7%d8%b9%d9%85-%d9%84%d9%83%d9%86%d9%87-%d8%a3%d8%ae%d8%b7%d8%b1-%d9%85%d9%86-%d9%85%d8%b1%d8%ad%d9%84%d8%a9-2017).
Perang Identitas: "Sinisisasi Islam" dan Pencabutan Akar Budaya
Pernyataan tersebut membahas secara mendalam apa yang disebut Tiongkok sebagai "Sinisisasi Islam" (Sinicization of Islam), sebuah proses yang bertujuan untuk merumuskan kembali akidah Islam agar sesuai dengan ideologi Partai Komunis [1.10](https://turkistanpress.com/ar/news/oic-china-meeting-condemned-as-betrayal-of-uyghur-muslims/). Pusat tersebut menunjukkan bahwa otoritas Tiongkok telah mengkriminalisasi praktik keagamaan dasar, di mana Muslim dihukum karena memiliki Al-Qur'an, memelihara janggut, atau bahkan menolak minum alkohol dalam kompetisi paksa yang diselenggarakan oleh negara [1.30](https://hizb-ut-tahrir.info/ar/index.php/leaflets/turkey/31518.html).
Pernyataan itu juga menyoroti tragedi anak-anak Uyghur yang dipisahkan dari keluarga mereka dan ditempatkan di panti asuhan pemerintah untuk dicuci otaknya serta dicabut dari bahasa dan agama mereka. Hal ini digambarkan oleh para ahli PBB dalam laporan terbaru mereka sebagai pelanggaran berat terhadap hak-hak anak yang setara dengan kejahatan terhadap kemanusiaan [1.14](https://uhrp.org/united-nations-responses-to-the-uyghur-crisis/).
Seruan untuk Tindakan Internasional dan Islam Segera
Di akhir pernyataannya, **Pusat Pembebasan Umat untuk Turkistan Timur** menyampaikan seruan mendesak yang mencakup beberapa tuntutan utama: 1. **Untuk PBB:** Perlunya mengaktifkan mekanisme akuntabilitas internasional dan membentuk komite investigasi independen untuk memasuki wilayah tersebut, serta memperbarui laporan Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia yang sejak 2022 telah mengonfirmasi terjadinya kejahatan terhadap kemanusiaan [1.5](https://www.amnesty.org/en/latest/news/2025/08/china-still-no-accountability-for-crimes-against-humanity-in-xinjiang-three-years-after-major-un-report/). 2. **Untuk OKI:** Segera berhenti mendukung narasi Tiongkok, mengakui isu Turkistan Timur sebagai masalah pendudukan dan genosida, serta memberlakukan sanksi ekonomi terhadap perusahaan-perusahaan Tiongkok yang terlibat dalam kerja paksa [1.16](https://udtsb.com/ar/statement-on-continuous-cooperation-between-oic-and-china/). 3. **Untuk Umat Islam:** Menghidupkan kembali semangat solidaritas dengan saudara-saudara mereka di Turkistan Timur, memboikot produk Tiongkok hasil kerja paksa, dan menyebarkan kesadaran tentang isu ini di semua forum [1.23](https://www.iumsonline.org/ar/ContentDetails.aspx?ID=24835).
Kesimpulan: Amanah di Pundak Umat
Pernyataan Pusat Pembebasan Umat untuk Turkistan Timur bukan sekadar pemantauan pelanggaran, melainkan dokumen permohonan bantuan bagi umat yang berjumlah dua miliar Muslim. Kebisuan atas apa yang terjadi di Kashgar dan Urumqi adalah lampu hijau bagi penjajah untuk terus menghapus jejak peradaban Islam yang agung. Kewajiban syar'i dan moral mengharuskan setiap Muslim dan Muslimah untuk menjadi suara bagi mereka yang tidak bersuara, hingga Turkistan Timur kembali merdeka dan bermartabat, serta mesin penindasan yang tidak membedakan antara anak-anak dan orang tua, maupun antara masjid dan sekolah, dapat dihentikan.
"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara", dan pernyataan ini mengingatkan kita bahwa luka Turkistan adalah luka pada satu tubuh umat, dan tubuh ini tidak akan bisa tenang selama salah satu anggotanya merintih di bawah beban genosida [1.23](https://www.iumsonline.org/ar/ContentDetails.aspx?ID=24835).
Komentar
comments.comments (0)
Please login first
Sign in