Analisis Mendalam Perjanjian Damai Pemerintah Filipina dengan Front Pembebasan Islam Moro serta Dampaknya terhadap Keamanan Asia Tenggara

Analisis Mendalam Perjanjian Damai Pemerintah Filipina dengan Front Pembebasan Islam Moro serta Dampaknya terhadap Keamanan Asia Tenggara

George Brooke@georgebrooke-1
2
0

Artikel ini membahas status pelaksanaan perjanjian damai antara pemerintah Filipina dan MILF, menganalisis kebuntuan politik akibat penundaan pemilu 2026, dan dampaknya terhadap stabilitas keamanan di Asia Tenggara.

Referensi Artikel

Artikel ini membahas status pelaksanaan perjanjian damai antara pemerintah Filipina dan MILF, menganalisis kebuntuan politik akibat penundaan pemilu 2026, dan dampaknya terhadap stabilitas keamanan di Asia Tenggara.

  • Artikel ini membahas status pelaksanaan perjanjian damai antara pemerintah Filipina dan MILF, menganalisis kebuntuan politik akibat penundaan pemilu 2026, dan dampaknya terhadap stabilitas keamanan di Asia Tenggara.
Kategori
Pembaruan Garis Depan
Penulis
George Brooke (@georgebrooke-1)
Diterbitkan
1 Maret 2026 pukul 05.44
Diperbarui
1 Mei 2026 pukul 15.49
Akses
Artikel publik

Pendahuluan: Cahaya Harapan dan Ujian Setelah Perjuangan Panjang

Di tengah pegunungan yang menjulang dan dataran luas Mindanao di Filipina Selatan, perjuangan saudara-saudara Muslim (Ummah) untuk hak penentuan nasib sendiri dan martabat telah berlangsung selama berabad-abad. Pada Februari 2026, berdiri di titik awal sejarah yang baru, kita tidak hanya meninjau kembali Perjanjian Komprehensif tentang Bangsamoro (CAB) yang monumental, tetapi juga mencermati ketangguhan proses perdamaian ini di bawah berbagai tantangan berat. Bagi masyarakat Muslim global, otonomi Bangsamoro bukan sekadar perubahan geopolitik, melainkan manifestasi nyata dari kemenangan keadilan (Adl) atas penindasan, serta praktik nilai-nilai Islam dalam kerangka tata kelola modern. Namun, dengan penundaan kembali pemilihan parlemen pertama yang semula dijadwalkan tahun 2025 menjadi September 2026 [Source](https://www.abs-cbn.com/news/2026/2/25/bill-resetting-barmm-polls-moves-forward-at-the-senate-1721), kontrak perdamaian ini menghadapi ujian terberatnya sejak ditandatangani.

Kontrak Sejarah: Dari Perlawanan Bersenjata Menuju Jihad Politik

Perjuangan Bangsamoro berakar pada perlawanan terhadap kolonialisme dan ketidakadilan sejarah. Dari penjajah Spanyol hingga pemerintah pusat setelahnya, rakyat Moro selalu menjaga iman dan tanah air mereka. Front Pembebasan Islam Moro (MILF), di bawah kepemimpinan mendiang Hashim Salamat, mendefinisikan perjuangan ini sebagai bentuk "Jihad", yang intinya bukan sekadar kekuatan militer, melainkan upaya membangun masyarakat yang mampu mempraktikkan hukum Islam dan keadilan sosial [Source](https://www.researchgate.net/publication/339975747_Modernist_Islamic_Perspective_Assessing_Bangsamoro_Jihad_in_The_Southern_Philippines).

Penandatanganan perjanjian komprehensif tahun 2014 dan pengesahan Undang-Undang Organik Bangsamoro (BOL) pada tahun 2018 menandai transisi dari "Jihad Kecil" (perjuangan bersenjata) menuju "Jihad Besar" (perbaikan diri dan pembangunan sosial). Pembentukan Daerah Otonomi Bangsamoro di Muslim Mindanao (BARMM) pada tahun 2019 adalah hasil institusional dari transisi ini. Bagi umat Islam di Asia Tenggara, hal ini membuktikan bahwa otonomi tingkat tinggi melalui musyawarah (Shura) adalah jalur yang layak ditempuh dengan tetap menghormati kedaulatan negara.

Kebuntuan Politik 2026: Permainan Antara Integritas dan Kekuasaan

Hingga Februari 2026, proses perdamaian telah memasuki fase yang disebut sebagai "periode kabut". Pemilihan parlemen Bangsamoro pertama yang semula dijadwalkan Mei 2025 telah berulang kali ditunda karena sengketa hukum, termasuk keputusan Mahkamah Agung yang mengeluarkan Provinsi Sulu dari daerah otonomi serta penataan ulang daerah pemilihan [Source](https://www.justsecurity.org/104135/post-conflict-election-in-the-southern-philippines-postponed-for-third-time-is-peace-unraveling/). Pada 25 Februari 2026, Senat Filipina meloloskan pembacaan kedua RUU untuk menunda pemilihan hingga 14 September 2026 [Source](https://www.abs-cbn.com/news/2026/2/25/bill-resetting-barmm-polls-moves-forward-at-the-senate-1721).

Dari perspektif Muslim, penundaan yang terus-menerus ini bukan sekadar keterlambatan administratif, melainkan pengikisan terhadap kontrak perdamaian (Ahd). Kepemimpinan MILF dalam pertemuan di Camp Darapanan pada 16 Februari 2026 menegaskan kembali bahwa pelaksanaan penuh perjanjian damai adalah hal yang tidak dapat dinegosiasikan [Source](https://www.yenisafak.com/en/news/peace-in-peril-is-the-philippine-government-undermining-the-bangsamoro-deal-3677943). Penggantian sepihak Ketua Menteri sementara oleh Manila serta intervensi dalam struktur pemerintahan transisi telah memicu keraguan mendalam di komunitas Muslim terhadap ketulusan pemerintah pusat. Ketimpangan kekuasaan ini sedang menguji kesabaran dan kearifan para pemimpin Moro.

Stagnasi Proses Normalisasi: Kekhawatiran Vakum Keamanan

Salah satu pilar utama perjanjian damai adalah "Normalisasi", yang mencakup pelucutan senjata, demobilisasi, dan reintegrasi (DDR) para pejuang MILF. Namun, pada awal 2026, proses ini digambarkan berada dalam kondisi "koma" [Source](https://www.inquirer.net/445678/watchdogs-warn-of-collapse-of-bangsamoro-peace-process/). Karena ketidakpastian transisi politik, tahap akhir pelucutan senjata bagi sekitar 14.000 pejuang secara substansial terhenti.

Stagnasi ini membawa risiko keamanan yang serius. Tanpa alternatif ekonomi yang efektif dan jaminan politik, peredaran senjata ilegal di kalangan sipil justru meningkat. Yang lebih mengkhawatirkan, kekuatan ekstremis (seperti sisa-sisa kelompok yang berafiliasi dengan ISIS) mencoba memanfaatkan rasa frustrasi ini untuk melakukan infiltrasi. Bagi dunia Muslim Asia Tenggara, stabilitas Bangsamoro adalah benteng kokoh melawan ideologi ekstrem (Fitna). Jika perjanjian damai runtuh, tidak hanya Filipina Selatan yang akan kembali terjerumus dalam perang, tetapi seluruh komunitas Muslim di kawasan tersebut bisa terancam oleh radikalisasi [Source](https://muslimnetwork.tv/exclusive-interview-peace-monitor-warns-stalled-bangsamoro-process-could-fuel-isis-activity/).

Lanskap Keamanan Asia Tenggara: Kolaborasi Negara-Negara Serumpun

Proses perdamaian Bangsamoro tidak pernah menjadi urusan dalam negeri Filipina semata; ini adalah bagian penting dari geopolitik Muslim Asia Tenggara. Malaysia sebagai mediator jangka panjang, Indonesia sebagai pengawas, serta perhatian berkelanjutan dari Organisasi Kerja Sama Islam (OIC), bersama-sama membentuk "jaring pengaman regional".

1. **Landasan Kolaborasi Anti-Teror**: BARMM yang sukses dapat mencabut akar ekstremisme melalui pendidikan Islam (Madaris) dan tata kelola komunitas. Situasi tahun 2026 menunjukkan bahwa berbagi intelijen dan kerja sama anti-teror di kawasan sangat bergantung pada stabilitas politik Bangsamoro.
2. **Visi Kemakmuran Ekonomi**: Dengan kemajuan Kawasan Pertumbuhan ASEAN Timur (BIMP-EAGA), wilayah Muslim di Mindanao dipandang sebagai pusat perdagangan yang menghubungkan Sabah di Malaysia dan Sulawesi Utara di Indonesia. Implementasi perjanjian damai akan melepaskan potensi ekonomi wilayah ini dan meningkatkan taraf hidup saudara-saudara Muslim.
3. **Model Identitas**: Upaya Bangsamoro untuk mempertahankan identitas Islam dalam kerangka negara sekuler memberikan referensi berharga bagi kelompok minoritas Muslim di wilayah lain, seperti Thailand Selatan [Source](https://www.sitesofconscience.org/a-history-of-struggle-for-peace-of-the-bangsamoro/).

Tantangan Tata Kelola: Keseimbangan Antara Nilai Islam dan Politik Modern

Selama masa transisi, Otoritas Transisi Bangsamoro (BTA) yang dipimpin MILF berupaya mengintegrasikan prinsip-prinsip Islam dalam tata kelola. Misalnya, pembentukan sistem peradilan jalur ganda dengan Pengadilan Syariah (Shari'ah Courts) yang berjalan berdampingan dengan hukum sipil, serta promosi reformasi keuangan dan pendidikan yang sesuai dengan syariat Islam [Source](https://www.newmandala.org/how-bangsamoros-political-transition-got-stuck/). Upaya ini bertujuan membuktikan bahwa nilai-nilai Islam dan partisipasi demokratis (Shura) tidak bertentangan, melainkan dapat memberikan solusi moral bagi korupsi dan tata kelola yang tidak efisien.

Namun, konflik faksi internal dan hambatan dari keluarga politik tradisional (dinasti) tetap ada. Gejolak politik awal 2026 mencerminkan rasa sakit dari transisi organisasi revolusioner menjadi partai penguasa. Komunitas Muslim menyerukan agar kepemimpinan tetap bersatu, memegang teguh inti tata kelola Islam yaitu "keadilan, kesetaraan, dan musyawarah", serta menghindari jebakan keserakahan kekuasaan duniawi [Source](https://addu.edu.ph/islam-and-democracy-in-the-bangsamoro/).

Kesimpulan: Kesempatan Keadilan yang Tidak Boleh Terlewatkan

Perjanjian damai Bangsamoro bukan sekadar dokumen resmi; ini adalah kesempatan keadilan yang dibayar dengan darah ratusan ribu syuhada, dan aspirasi kolektif Muslim Asia Tenggara untuk hidup damai. Meskipun kebuntuan politik tahun 2026 tampak berat, hal itu bukan tidak mungkin diatasi. Pemerintah Filipina harus menyadari bahwa pengkhianatan terhadap perjanjian akan dibayar mahal dengan stabilitas keamanan; sementara MILF juga perlu menunjukkan keunggulan dan inklusivitas dalam tata kelola sambil tetap mempertahankan prinsip.

Sebagai bagian dari komunitas Muslim global, kita harus terus mendukung tuntutan sah saudara-saudara di Bangsamoro dan mengawasi agar setiap butir perjanjian damai dilaksanakan. Perwujudan keadilan mungkin terlambat, tetapi tidak boleh absen. Keberhasilan Bangsamoro akan menjadi babak gemilang dalam perjuangan umat Islam di Asia Tenggara dan dunia untuk perdamaian dan martabat di abad ke-21.

--- Referensi:
- [ABS-CBN News: Bill resetting BARMM polls moves forward at the Senate (2026-02-25)](https://www.abs-cbn.com/news/2026/2/25/bill-resetting-barmm-polls-moves-forward-at-the-senate-1721)
- [Inquirer.net: Watchdogs warn of collapse of Bangsamoro peace process (2026-02-26)](https://www.inquirer.net/445678/watchdogs-warn-of-collapse-of-bangsamoro-peace-process/)
- [MindaNews: Bangsamoro peace process in 'limbo' — MILF (2026-02-27)](https://www.mindanews.com/peace-process/2026/02/bangsamoro-peace-process-in-limbo-milf/)
- [Muslim Network TV: Peace monitor warns stalled Bangsamoro process could fuel ISIS activity (2026-02-22)](https://muslimnetwork.tv/exclusive-interview-peace-monitor-warns-stalled-bangsamoro-process-could-fuel-isis-activity/)
- [Yeni Safak: Peace in Peril: Is the Philippine Government Undermining the Bangsamoro Deal? (2026-02-18)](https://www.yenisafak.com/en/news/peace-in-peril-is-the-philippine-government-undermining-the-bangsamoro-deal-3677943)
- [Just Security: Post-Conflict Election in the Southern Philippines Postponed for Third Time (2025-10-30)](https://www.justsecurity.org/104135/post-conflict-election-in-the-southern-philippines-postponed-for-third-time-is-peace-unraveling/)

Komentar

comments.comments (0)

Please login first

Sign in