
Suara Uyghur Menggema di Forum Internasional: Menyoroti Pelanggaran Berkelanjutan dan Hak Asasi Manusia yang Hilang di Turkistan Timur
Laporan mendalam yang meninjau meningkatnya gerakan internasional Uyghur pada tahun 2026, menyoroti pelanggaran yang terus berlanjut di Turkistan Timur, serta posisi umat Islam terhadap tragedi kemanusiaan ini.
Referensi Artikel
Laporan mendalam yang meninjau meningkatnya gerakan internasional Uyghur pada tahun 2026, menyoroti pelanggaran yang terus berlanjut di Turkistan Timur, serta posisi umat Islam terhadap tragedi kemanusiaan ini.
- Laporan mendalam yang meninjau meningkatnya gerakan internasional Uyghur pada tahun 2026, menyoroti pelanggaran yang terus berlanjut di Turkistan Timur, serta posisi umat Islam terhadap tragedi kemanusiaan ini.
- Kategori
- Arsip Media Kebebasan
- Penulis
- X F (@xf)
- Diterbitkan
- 2 Maret 2026 pukul 11.07
- Diperbarui
- 1 Mei 2026 pukul 14.37
- Akses
- Artikel publik
Pendahuluan: Luka Umat yang Terus Menganga di Turkistan Timur
Isu Turkistan Timur tetap menjadi salah satu tragedi kemanusiaan paling memilukan di era modern, di mana masyarakat Muslim Uyghur menghadapi kampanye sistematis yang bertujuan untuk menghapus identitas agama dan etnis mereka. Memasuki tahun 2026, diam bukan lagi menjadi pilihan; suara masyarakat Uyghur di forum-forum internasional meningkat secara luar biasa, didorong oleh semakin banyaknya bukti kejahatan terhadap kemanusiaan dan genosida budaya. Isu ini bukan sekadar konflik politik atau hak asasi manusia, melainkan ujian nyata bagi hati nurani umat Islam dan nilai-nilai yang mendesak untuk membela mereka yang terzalimi serta membantu mereka yang membutuhkan [Source](https://www.aljazeera.net/news/2025/2/4/%D8%A7%D9%84%D8%B5%D9%8I%D9%86-%D8%AA%D8%AE%D9%81%D9%91%D9%81-%D9%85%D9%86%D8%B4-%D8%A7%D9%84%D8%B3%D9%81%D8%B1-%D8%B9%D9%84%D9%89-%D8%A7%D9%84%D8%A5%D9%8A%D8%BA%D9%88%D8%B1).
Gerakan 2026: Uyghur di Jantung Forum Internasional
Bulan Februari 2026 menyaksikan pergerakan diplomatik yang intens dari organisasi-organisasi Uyghur di pengasingan. Delegasi tingkat tinggi dari Kongres Uyghur Dunia (World Uyghur Congress), yang mencakup tokoh-tokoh terkemuka seperti Rushan Abbas dan Dolkun Isa, berpartisipasi dalam "Global Forum 2026" yang diadakan pada pertengahan Februari [Source](https://www.uyghurcongress.org/en/weekly-brief-20-february-2026/). Dalam forum tersebut, Rushan Abbas menyampaikan pidato yang menyentuh hati, menyoroti penderitaan perempuan Uyghur, termasuk sterilisasi paksa, aborsi paksa, dan pernikahan paksa yang diberlakukan oleh otoritas Tiongkok untuk mengintegrasikan warga Uyghur secara paksa ke dalam masyarakat Han Tiongkok. Ia juga menuntut komunitas internasional untuk segera bertindak demi pembebasan saudara perempuannya, Dr. Gulshan Abbas, yang telah ditahan secara sewenang-wenang selama bertahun-tahun [Source](https://www.uyghurcongress.org/en/weekly-brief-20-february-2026/).
Dalam konteks terkait, lebih dari 26 organisasi non-pemerintah (NGO) mendesak Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Volker Türk, untuk menggunakan sesi ke-61 Dewan Hak Asasi Manusia (yang dimulai pada 23 Februari 2026 dan berlangsung hingga akhir Maret) guna memberikan rincian tentang upaya kantornya dalam menyelidiki kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan di Turkistan Timur [Source](https://campaignforuyghurs.org/26-ngos-call-on-volker-turk-to-address-chinas-abuses-at-the-hrcs-61st-session/). Tuntutan ini muncul lebih dari tiga tahun setelah laporan bersejarah PBB tahun 2022, yang mengonfirmasi bahwa pelanggaran di wilayah tersebut dapat dikategorikan sebagai kejahatan internasional [Source](https://www.hrw.org/world-report/2026/country-chapters/china).
Penghapusan Identitas Islam: Menargetkan Akidah dan Tempat Suci
Dari perspektif Islam yang murni, apa yang terjadi di Turkistan Timur merupakan perang terbuka terhadap Islam. Otoritas Tiongkok tidak hanya melakukan penahanan massal, tetapi juga berupaya melakukan "Sinisisasi" Islam dengan merobohkan masjid atau mengubahnya menjadi pusat wisata atau kafe, melarang pengajaran Al-Qur'an, dan mengkriminalisasi praktik keagamaan sederhana seperti berpuasa atau memelihara janggut [Source](https://ar.wikipedia.org/wiki/%D8%A7%D9%84%D8%A5%D8%A8%D8%A7%D8%A9_%D8%A7%D9%84%D8%AC%D9%85%D8%A7%D8%B9%D9%8A%D8%A9_%D9%84%D9%84%D8%A3%D9%82%D9%84%D9%8A%D8%A7%D8%AA_%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%B3%D9%84%D9%85%D8%A9_%D9%81%D9%8A_%D8%A7%D9%84%D8%B5%D9%8A%D9%86).
"Indeks Pelanggaran Hak Asasi Manusia di Turkistan Timur 2025" yang diluncurkan oleh East Turkistan Human Rights Watch (ETHR), mendokumentasikan kelanjutan dari kebijakan represif ini, menunjukkan bahwa otoritas menggunakan teknologi canggih untuk memantau setiap gerak-gerik umat Islam di wilayah tersebut [Source](https://turkistantimes.com/ar/news-17336.html). Penargetan sistematis ini bertujuan untuk menciptakan generasi baru Uyghur yang terputus dari akar Islam dan sejarah panjang mereka, yang merupakan ancaman eksistensial bagi identitas seluruh bangsa Muslim.
Tragedi Deportasi Paksa: Kegagalan Hukum Internasional
Isu pengungsi Uyghur di negara-negara tetangga adalah salah satu berkas yang paling tragis. Pada Februari 2026, para ahli PBB memperingatkan pemerintah Thailand agar tidak mendeportasi 48 pengungsi Uyghur yang telah ditahan selama lebih dari satu dekade dalam kondisi yang memprihatinkan [Source](https://www.uygurnews.com/february-2026-uygur-news/). Peringatan ini muncul setelah peringatan deportasi 40 warga Uyghur dari Thailand ke Tiongkok pada Februari 2025, sebuah langkah yang digambarkan oleh Volker Türk sebagai "pelanggaran nyata terhadap prinsip non-refoulement" [Source](https://news.un.org/ar/story/2025/02/1140131).
Laporan juga muncul pada akhir tahun 2025 yang menunjukkan kemungkinan otoritas Suriah menyerahkan ratusan pejuang Uyghur dan keluarga mereka ke Tiongkok, yang memicu kekhawatiran mendalam di kalangan organisasi hak asasi manusia, meskipun ada bantahan resmi dari pihak Suriah [Source](https://www.alarabiya.net/arab-and-world/syria/2025/11/17/%D8%A7%D9%84%D8%AE%D8%A7%D8%B1%D8%AC%D9%8A%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D8%B3%D9%88%D8%B1%D9%8A%D8%A9-%D8%AA%D9%86%D9%81%D9%8A-%D8%AA%D8%B3%D9%84%D9%8A%D9%85-400-%D9%85%D9%82%D8%A7%D8%AA%D9%84-%D9%85%D9%86-%D8%A3%D9%82%D9%84%D9%8A%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D8%A5%D9%8A%D8%BA%D9%88%D8%B1-%D8%A7%D9%84%D9%89-%D8%A7%D9%84%D8%B5%D9%8A%D9%86). Menyerahkan umat Islam yang melarikan diri dari penindasan kepada penyiksa mereka merupakan tikaman bagi persaudaraan Islam dan penyimpangan dari aturan kemanusiaan yang paling mendasar.
Perbudakan Modern: Kerja Paksa dan Eksploitasi Ekonomi
Pelanggaran tidak berhenti di balik jeruji kamp tahanan, tetapi meluas hingga mencakup eksploitasi warga Uyghur dalam sistem kerja paksa modern. Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) pada Februari 2026 mengangkat kekhawatiran serius mengenai kerja paksa di Turkistan Timur, menunjukkan keterlibatan perusahaan global dalam rantai pasokan yang bergantung pada tenaga kerja paksa Uyghur [Source](https://www.uyghurcongress.org/en/weekly-brief-20-february-2026/).
Penelitian terbaru menunjukkan operasi penyitaan lahan pertanian secara luas di Turkistan Timur, yang menyebabkan ribuan petani Uyghur kehilangan tempat tinggal dan dipaksa bekerja di perusahaan pertanian besar Tiongkok [Source](https://www.uygurnews.com/february-2026-uygur-news/). Eksploitasi ekonomi ini bukan sekadar pelanggaran hak-hak pekerja, melainkan bagian dari strategi komprehensif untuk memiskinkan warga Uyghur dan membuat mereka sepenuhnya bergantung pada negara Tiongkok secara ekonomi dan sosial.
Sikap Umat Islam: Antara Kewajiban Agama dan Kepentingan Politik
Sangat disayangkan melihat perbedaan tajam dalam sikap negara-negara Muslim terhadap isu ini. Sementara suara masyarakat Muslim meningkat dalam solidaritas dengan saudara-saudara mereka, banyak pemerintah tetap bungkam atau hanya mengeluarkan pernyataan yang lemah demi menjaga kepentingan ekonomi mereka dengan Beijing, terutama dalam kerangka inisiatif "Sabuk dan Jalan" (Belt and Road Initiative).
Kongres Uyghur Dunia pada Oktober 2025 mengkritik sikap diam beberapa negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), menyebutnya sebagai "kemunafikan", terutama karena organisasi tersebut mengusung slogan membela hak-hak umat Islam di dunia [Source](https://dukva.org/news-world-uyghur-congress-foundation/). Kewajiban syar'i mengharuskan OKI untuk berada di barisan terdepan dalam membela warga Uyghur, sebagaimana yang mereka lakukan terhadap isu Palestina dan isu Rohingya, karena sesama Muslim itu ibarat satu bangunan yang saling menguatkan.
Kesimpulan: Seruan untuk Hati Nurani Dunia dan Umat Islam
Meningkatnya suara Uyghur pada tahun 2026 adalah bukti bahwa kebenaran tidak akan mati selama ada yang menuntutnya. Turkistan Timur bukan sekadar titik geografis yang jauh, melainkan bagian integral dari tubuh umat Islam. Kami menyerukan kepada komunitas internasional, khususnya negara-negara Muslim, untuk melampaui bahasa kepentingan sempit dan berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan dan Islam.
Tekanan nyata harus diberikan kepada Beijing untuk menghentikan kampanye penindasan, menutup kamp-kamp penahanan, dan mengizinkan warga Uyghur menjalankan ibadah mereka dengan bebas. Sejarah tidak akan memaafkan mereka yang berlepas tangan, dan suara Uyghur akan terus bergema hingga mereka mendapatkan kembali hak-hak mereka yang hilang dan kebebasan mereka yang dirampas di tanah bersejarah mereka.
**Sumber:** - [Al Jazeera: Tiongkok melonggarkan larangan perjalanan bagi Uyghur namun tetap memberlakukan pembatasan ketat](https://www.aljazeera.net/news/2025/2/4/%D8%A7%D9%84%D8%B5%D9%8I%D9%86-%D8%AA%D8%AE%D9%81%D9%91%D9%81-%D9%85%D9%86%D8%B4-%D8%A7%D9%84%D8%B3%D9%81%D8%B1-%D8%B9%D9%84%D9%89-%D8%A7%D9%84%D8%A5%D9%8A%D8%BA%D9%88%D8%B1) - [World Uyghur Congress: Ringkasan Mingguan - 20 Februari 2026](https://www.uyghurcongress.org/en/weekly-brief-20-february-2026/) - [Campaign for Uyghurs: 26 Organisasi mendesak PBB untuk bertindak](https://campaignforuyghurs.org/26-ngos-call-on-volker-turk-to-address-chinas-abuses-at-the-hrcs-61st-session/) - [Uyghur News: Pembaruan Februari 2026](https://www.uygurnews.com/february-2026-uygur-news/) - [UN News: Deportasi Uyghur dari Thailand melanggar hukum internasional](https://news.un.org/ar/story/2025/02/1140131) - [Human Rights Watch: Laporan Dunia 2026 - Tiongkok](https://www.hrw.org/world-report/2026/country-chapters/china) - [Turkistan Times: Peluncuran Indeks Pelanggaran Hak Asasi Manusia 2025](https://turkistantimes.com/ar/news-17336.html) - [Al Arabiya: Kemenlu Suriah membantah penyerahan pejuang Uyghur](https://www.alarabiya.net/arab-and-world/syria/2025/11/17/%D8%A7%D9%84%D8%AE%D8%A7%D8%B1%D8%AC%D9%8I%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D8%B3%D9%88%D8%B1%D9%8I%D8%A9-%D8%AA%D9%86%D9%81%D9%8A-%D8%AA%D8%B3%D9%84%D9%8A%D9%85-400-%D9%85%D9%82%D8%A7%D8%AA%D9%84-%D9%85%D9%86-%D8%A3%D9%82%D9%84%D9%8I%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D8%A5%D9%8A%D8%BA%D9%88%D8%B1-%D8%A7%D9%84%D9%89-%D8%A7%D9%84%D8%B5%D9%8I%D9%86) - [World Uyghur Congress Foundation: Kritik terhadap sikap diam negara-negara Muslim](https://dukva.org/news-world-uyghur-congress-foundation/)
Komentar
comments.comments (0)
Please login first
Sign in